Tak bisa sepenuhnya mekar (menemukan tempatnya)

Sorai - Nadin Amizah

6d4c21ed8c67819f088c611be3ee19c0.jpg


Di bawah langit yang berbicara, angin senja menari pelan di atas pasir yang hangat, mengangkat debu-debu halus seakan melukis tarian terakhir matahari sebelum tenggelam. Di ujung pantai yang sepi, berdirilah seseorang yang tak pernah gagal menarik langkahku ke sana. Tubuhnya tegak, namun tampak rapuh, seperti dahan yang hampir patah tetapi menolak menyerah pada badai. Ia adalah misteri yang tak kunjung selesai, sebuah teka-teki yang selalu mengundangku untuk kembali.

Aku melihatnya dari jauh, seperti biasa. Tatapannya tak pernah berubah—selalu terpaku pada cakrawala, seolah di sana tersimpan sesuatu yang ia cari dengan gigih, meski waktu telah lama berlalu. Setiap kali aku mendekat, ia tak pernah beranjak. Bahkan suaraku yang menyapa tak pernah mengguncang dunianya. Ia, dengan segala sunyi dan kesederhanaannya, tetap menjadi pusat semesta kecilku, meski aku tahu aku hanya orbit yang tak pernah benar-benar menyentuhnya.

“Kenapa kau selalu di sini?” tanyaku lembut, mencoba lagi membuka dinding keheningan yang selalu ia bangun. Ia menoleh sedikit, cukup untuk membuatku bisa melihat wajahnya. Wajah yang indah dalam kesederhanaannya, namun dihiasi bayangan luka yang tak pernah pudar. “Aku menyukai tempat ini,” jawabnya singkat, seperti biasa.

Jawaban itu selalu sama, tapi aku tidak menyerah. Bagiku, mencintainya seperti mencoba menahan ombak—aku tahu aku akan tersapu, namun aku tetap bertahan. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tetap datang, meski aku tahu aku mungkin hanya bayang yang tak pernah ia lihat.

Hari-hari berlalu, dan aku terus kembali. Aku mencoba mendekatinya dengan cerita-cerita kecil, kisah tentang masa laluku, tentang kebahagiaan dan luka yang pernah kualami. Kadang ia mendengarkan, kadang ia hanya menatap cakrawala tanpa memberikan reaksi. Tapi aku tidak peduli. Bagiku, ia adalah alasan untuk terus bercerita, untuk terus hidup.

Hingga suatu hari, aku memberanikan diri bertanya lebih dalam. “Apa yang sebenarnya kau tunggu di sini?” Ia terdiam lama, lalu menghela napas pelan. “Aku tidak menunggu siapa pun,” katanya akhirnya. “Aku hanya mencoba mengingat.

Mengingat apa?” desakku, hatiku berdebar menanti jawabannya. “Mengingat seseorang,” ucapnya, suaranya hampir seperti bisikan. “Seseorang yang tidak akan pernah kembali.

Jawabannya menusukku, seperti pedang yang menembus tanpa ampun. Aku ingin bertanya lebih banyak, ingin mengetahui siapa yang ia maksud, ingin memahami luka yang ia bawa. Tapi aku tahu, itu bukan hakku. Aku hanyalah orang asing yang mencoba masuk ke dalam dunianya, dunia yang telah lama ia kunci rapat.

Namun, hatiku tetap tak bisa berhenti mencintainya. Aku mencintai cara ia berdiri dengan teguh meski beban luka tampak begitu berat. Aku mencintai keheningannya, yang terasa lebih bermakna daripada ribuan kata. Aku mencintai senyum tipis yang sesekali muncul di wajahnya, meski aku tahu senyum itu bukan untukku.

Aku mulai menyadari bahwa mencintainya adalah bentuk penderitaan yang indah. Setiap kali aku melihatnya, hatiku terasa penuh, namun juga kosong. Aku ingin menjadi orang yang ia lihat, orang yang ia ingat. Tapi aku tahu, hatinya telah terkunci pada seseorang yang tak bisa kulawan—cinta lama yang telah menjadi bagian dari dirinya, lebih dalam dari apa pun yang bisa kuberikan.